Selamat datang di unofficial Blog Yayasan dan Pondok Pesantren Al Madaniyyah Kota Batam, Propinsi Kepulauan Riau. Adapun tulisan-tulisan yang terdapat di Blog ini bukan mewakili pemilik yayasan, melainkan sekedar goresan dari seorang jema'ah dari Majelis Ta'lim yang diasuh oleh Yayasan ini. Terima kasih atas perhatian dan kunjungan Anda | Jadwal Majelis: 1. Pembacaan Maulid Simtud Duror (Kitab Maulid Baginda Rasulullah SAW, Karya Al-Habib Ali bin Muhammad bin Husein Al-Habsyi - Hadhramaut) - Setiap Kamis Malam Jum'at Jam: 20:15 WIB s/d Selesai | 2. Pembacaan Sholawat Arba'in (Kitab Sholawat 40, Karya Al-Habib Toha Yahya - Shohibul Majelis Asma ul Husna wa Mawlidur Rasul - Kota Batam) - Setiap Ahad Ba'da Sholat Ashar Bersama Para Assatidz (Khusus Untuk Ahad Terakhir Setiap Bulannya Insya Allah Akan Dihadiri Juga Oleh Para Habaib Yang Dirangkai Dengan Tausiyah) | Jadwal Majelis Sewaktu-waktu Dapat Berubah Tanpa Pemberitahuan Terlebih Dahulu. Untuk Konfirmasi Tentang Jadwal Majelis, Silahkan Hubungi: Sekretariat Majelis Di Nomor Telepon: (0778) 468031 | Notification: This Blog is Recommended and Best Viewed With Internet Explorer 8 with 1024 x 768 and Above Monitor Resolution



Tampilkan postingan dengan label Habaib. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Habaib. Tampilkan semua postingan

23 April 2010

Cobaan Bagi Hamba Allah

Seorang hamba apabila berniat akan mendekatkan dirinya kepada Allah Ta’ala, maka dia akan mendapatkan berbagai macam tipu daya dan rintangan. Tipu daya yang pertama kali dihadapinya adalah syahwatnya, harta bendanya, tempat tinggalnya, anak istri dan pakaian-pakaiannya. Apabila ia terpengaruh oleh semua itu, maka terputuslah jalannya.

Sebaliknya, apabila ia tidak terpengaruh, dan malah tambah bersungguh-sungguh dalam perjalanannya menuju kepada Allah, maka datang cobaan lainnya, yaitu seperti orang-orang yang mengikuti jalannya, orang-orang yang berebut mencium tangannya, diberi tempat yang khusus di majlis yang dihadirinya, orang-orang pada minta doa dan barakah kepadanya dan beberapa hal yang semacam ini. Apabila ia terpengaruh dengan hal-hal seperti ini, maka terputuslah hubungannya dengan Allah Ta’ala.

Jika ia masih tidak terpengaruh, maka datang lagi cobaan baru lagi, yaitu mendapatkan hal yang luar biasa seperti karomah (kekeramatan) atau kasyaf (kemampuan menyingkap sesuatu). Jika ia terpengaruh oleh hal ini, maka terputuslah ia dari Allah Ta’ala.

Tetapi kalau ia masih tidak terpengaruh, maka masih datang cobaan lainnya, seperti rasa kesendirian, kekosongan, nikmatnya berkumpul dengan manusia, merasa mulia dengan kesendiriannya, dan merasa sepi dari pikiran terhadap dunia. Apabila ia berhenti sampai disini, maka putuslah ia dari tujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah.


Tetapi apabila ia masih meneruskan mujahadahnya, dan berjalan sesuai dengan apa yang diinginkan dan disukai oleh Allah Ta’ala, sebagaimana seorang hamba yang menyerahkan segenap rasa cinta dan ridhonya, dimanapun dan kapanpun ia berada, dan dalam keadaan bagaimanapun seperti dalam keadaan lelah, istirahat, nikmat, susah, di waktu berkumpul dengan manusia atau waktu kesendiriannya, bahkan ia tidak menginginkan apapun kecuali yang sesuai dengan keinginan Tuhannya, dan berusaha menjalankan apa-apa yang diperintahkan oleh Tuhannya dengan sempurna, serta jiwanya merasa lebih ringan dalam melangkah menuju kepada keridhoan Tuhannya, maka inilah yang dinamakan hamba yang telah sampai kepada Tuhannya dengan sempurna dan tidak terputus dari Tuhannya dengan apapun juga.

[Disarikan dari Isyarah Al-Wajd Syarah Ahibbatunaa Bi Najd, karangan Al-Habib Ali bin Isa bin Abdulqodir Alhaddad]
Sumber: http://bisyarah.wordpress.com

Read More..

08 April 2010

Tentang Upah Bagi Guru Mengaji

Jawaban Habib Munzir Al Musawa Seputar Upah Bagi Guru Mengaji dan Bagaimana Sebaiknya Sikap Seorang Da’i (Penyeru Ke Jalan Allah)

Sumber: Forum Tanya Jawab Majelis Rasulullah

Jawaban 1:

Saudaraku yg kumuliakan,

Boleh boleh saja mengambil bayaran dari mengajar agama, hal ini tidak disebut menjual agama, karena yg disebut menjual agama adalah menukar kebenaran dg kebatilan dengan iming iming bayaran dari fihak tertentu. Rasul saw bersabda : "Yang paling berhak untuk diambil upahnya adalah dari Kitabullah" (Shahih Bukhari Juz 2 hal 795).

berkata Assyu'biy menanggapi hadits ini : "tidak disyaratkan pada seorang pengajar apa apa selain menerima apa apa yg diberikan padanya bila diberi (Shahih Bukhari Juz 2 hal 795). maka jelaslah bahwa menerima bayaran atas pengajarannya itu dibenarkan oleh rasul saw dan diakui oleh syariah, bahkan Rasul saw dg tegas menjelaskan bahwa dari apa apa yg diambil upahnya berupa jasa, maka pengajar agama lah yg paling berhak untuk dberi upah.

Dan Rasul saw bersabda : "Sebaik baik manusia dan sebaik baik yg melangkah dimuka bumi adalah para Guru (guru agama), karena mereka itu bila agama ini rusak mereka memperbaikinya, maka berilah mereka dan jangan kalian sewa mereka, sungguh seorang guru bila mengajari seorang anak mengucapkan Bismillahirrahmanirrahim hingga anak itu bisa mengucapkannya maka Allah tuliskan bagi anak itu pengampunan, bagi guru itu pengampunan, dan bagi kedua ayah ibunya pengampunan" (HR Tirmidzi).

Namun sepantasnya seorang guru apalagi Da'i, untuk tidak mengandalkan nafkahnya dari mengajar, karena itu dirisaukan akan membuatnya tak ikhlas dalam berdakwah dan mengajar, namun sebaiknya ia mempunyai mata pencaharian lain, berdagang, atau lainnya dan menjadikan pemasukan dana dari hasil dakwahnya tuk kemajuan dakwah itu sendiri, maka dalam hal ini sungguh merupakan kemuliaan yg jelas, karena dana ditarik dari muslimin dan dikembalikan untuk dakwah muslimin.

Link Sumber Jawaban 1: http://majelisrasulullah.org/index.php?option=com_simpleboard&Itemid=&func=view&catid=9&id=4491&lang=id#4491


Jawaban 2:

Dalam hukum syariah tidak ada larangan bagi guru pengajar untuk menerima hadiah atau menetapkan bayaran, hal itu boleh boleh saja berlandaskan Nash hadits Rasul saw : “Sungguh yg paling berhak dibalas dg bayaran adalah Kitabullah” (Shahih Bukhari hadits no.5405). Hadits ini menunjukkan bahwa Rasul saw sangat memuliakan Ilmu syariah, maka sebagaimana orang orang membalas jasa seseorang dg bayaran, misalnya pegawai, penulis, penerima tamu, maka Rasul saw menjelaskan dari semua jasa, maka yg paling berhak untuk diberi balasan adalah para pengajar agama.

Diriwayatkan pula ketika suatu ketika seorang Ahli makrifah memberi uang 1000 dinar pada guru yg mengajari anaknya, maka guru itu berkata : “ini terlalu banyak!”, maka orang itu berkata : “harta sebanyak apapun kuberikan padamu tak bisa menyaingi jasamu mengajari anakku ilmu Allah.”

Nah.. pembahasan di atas adalah secara hukum syariah, namun dikembalikan antara dia dengan Allah maka tergantung niatnya, bila niatnya adalah untuk memperkaya diri maka ia tak dapat apa apa di akhirat kelak, rugi dengan 1000 kerugian karena telah menjual ilmunya didunia dg keduniawian dan harta, di akhirat ia pailit dan bangkrut.

Imam Ghazali rahimahullah menjelaskan mengenai hal ini dalam kitab nya Bidayatul hidayah, bahwa orang yg mempelajari ilmu hanya karena ingin keduniawian, ingin punya banyak pengikut, ingin kaya raya dg memanfaatkan ilmunya, menjualnya dg menghalallkan segala cara dg dalil dalil yg disambung potong, yg penting bisa menghasilkan uang dan kekayaan, maka orang seperti ini akan wafat dalam su'ul khatimah, seburuk buruknya keadaan, inilah yg dikatakan oleh Rasul saw : “aku daripada dajjal lebih takut lagi pada fitnah Ulama Su’ (ulama jahat), yaitu mereka yg mencari cara agar mendapatkan keduniawian dg cara menghalalkan yg haram dan mengharamkan yg halal, dg dalil dalil sambung potong agar orang awam percaya dan mengikutinya.

Mengenai kaya atau miskin kita tak bisa menilai dan menuduh sebelum kita memastikan bahwa hal itu ia dapatkan dari menjual agamanya, bisa saja Allah luaskan rizkinya dengan Allah jadikan murid muridnya kaya raya dan selalu mendukungnya, atau keluarganya mendukungnya, atau teman temannya ada yg maju dalam usaha dan membantunya untuk termudahkan dalam dakwahnya, ini semua bisa saja terjadi dengan kehendak dan anugerah Allah swt.

Link Sumber Jawaban 2: http://majelisrasulullah.org/index.php?option=com_simpleboard&Itemid=&func=view&catid=9&id=1886&lang=id#1886

Read More..

20 April 2009

Kilas Balik Perjalanan Ponpes Al Madaniyyah (1)

Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Alhamdulillah, tidak terasa jika perjalanan Pondok Pesantren Al Madaniyyah akan memasuki tahun ke 6 di tahun 2009 ini. Begitu banyak kisah yang dialami sepanjang perjalanan itu. Pun harapan yang ingin dicapai ke depannya.

Kali ini kami ingin mengajak para pembaca untuk sejenak ikut ke belakang, dimana kami ingin sedikit berbagi cerita, bagaimana awalnya Ponpes Al Madaniyyah yang seakan akan sudah menjadi satu tempat persinggahan alim ulama dari beberapa tempat, seperti para habaib dari pulau jawa, sumatera, kalimantan dan beberapa syeikh dari luar negeri yang alhamdulillah menyempatkan untuk singgah dalam rangka dakwah dan membagikan ilmu serta wejangan mereka yang penuh manfaat.

Kedatangan Para Habaib

Berdatangannya sejumlah Habaib, baik dari pulau Jawa maupun Sumatera dan juga kalimantan, tidak terlepas dari jasa fiqur seorang Habib yang cukup disegani di Kota Batam. Beliau adalah Al Habib Toha bin Yahya, Pimpinan Majelis Dzikir Asma ul Husna wa Mawlidur Rosul Kota Batam. Majelis beliau yang selalu di adakan setiap hari Ahad di minggu ke-empat setiap bulannya sering kali menghadirkan tokoh habaib yang mempunyai reputasi sebagai Da'i yang cukup disegani dan memiliki Majelis yang cukup besar di Kota asal mereka. Terhitung Al Habib Jindan bin Novel (Pimpinan Majelis Ta'lim Al Fachriyah) dari Jakarta, ataupun Al Habib Thohir bin Abdullah Alkaff pernah hadir menjadi Da'i tamu di Majelis beliau ini.

Alhamdulillah, rasa kedekatan yang terjadi di antara Ponpes Al Madaniyyah dan beliau telah menjadi kunci akan kesediaan dari para Habaib tadi untuk singgah di Ponpes Al Madaniyyah, juga dalam rangka berbagi ilmu bermanfaat untuk umat.
Semoga hubungan diantara kedua Majelis Ta'lim ini berkesinambungan dalam keridhoan dan keberkahan dari Allah swt serta menjadikan Rasulullah saw berbahagia melihatnya..amin.

[bersambung]
Read More..